SHARING SESSION: BIMBINGAN & KONSELING, BAGIAN PENTING DARI KURIKULUM MERDEKA

Gambar 1. Acara Sharing Session Bimbingan dan Konseling

Rencana pelaksanaan Kurikulum Merdeka memunculkan berbagai respon, tidak terkecuali para guru Bimbingan dan Konseling. Sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah tentu Bimbingan dan Konseling terdampak juga. Kurikulum Merdeka merupakan pengembangan dan penerapan kurikulum darurat yang diluncurkan untuk merespon dampak dari pandemic Covid-19. Disebut kurikulum merdeka karena dalam pelaksanaannya menggunakan konsep merdeka belajar. Merdeka belajar merupakan suatu pendekatan yang dilakukan agar siswa bisa memilih pelajaran yang dimunati. Dengan adanya konsep merdeka belajar tersebut mengakibatkan Kurikulum Merdeka memamg berbeda dari Kurikulum 2013.

Seperti halnya pada awal penerapan Kurikulum 2013, adanya perubahan dari sebelumnya akan mengakibatkan pelaku  dan pelaksana/penyelenggara pendidikan (guru dan sekolah) harus melakukan penyesuaian. Dalam proses penyesuaian ini lah yang seringkali memunculkan berbagai problema, seperti bingung, gundah, dsb. Demikian juga dengan adanya rencana penerapan Kurikulum Merdeka pada tahun 2024. Mulai tahun ajaran 2022, sekolah-sekolah diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri menerapkan Kurikulum Merdeka secara bertahap.  Sekolah bisa memilih tiga opsi yang ditawarkan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yaitu: 1) Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka tanpa mengganti kurikulum yang sedang dilaksanakan oleh sekolah; 2) Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah tersedia; 3) Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan berbagai perangkat ajar.

Untuk membantu mengatasi kegundahan guru, khususnya guru Bimbingan dan Konseling, pada hari Selasa, tanggal 5 Juli 2022, tim Pengabdian Masyarakat Prodi Bimbingan dan Konseling menyelenggarakan sharing session dengan guru BK SMA/MA se Kabupaten Kediri Acara sharing session ini dilaksanakan atas undangan dari Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Kabupaten Kediri. Tim terdiri dari: Dr. Sri Panca Setyawati, M. Pd., Santy Andrianie, M. Pd., Laelatul Arofah, M. Pd., dan Rosalia Dewi Nawantara, M. Pd. Nara sumber sharing session tersebut adalah Dr. Sri Panca Setyawati, M. Pd.

Sebelum acara sharing session dimulai, acara diisi oleh tim promosi Universitas Nusantara PGRI Kediri (Sarwito, S. Pd., M. M.). Tim promosi menjelaskan tentang agenda Penerimaan Camaba UNP Kediri. Kegiatan promosi ini sangat tepat, karena pesertanya adalah para guru BK yang notabene merupakan ujung tombak sekolah dalam menyampaikan informasi kepada siswa, khususnya terkait studi lanjut. Setelah acara promosi berakhir, dilanjutkan dengan acara sharing session dengan topik Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum Merdeka.

Dalam acara sharing session, Dr. Sri Panca Setyawati, M. Pd. selaku nara sumber memaparkan secara singkat tentang kurikulum merdeka, merdeka belajar, dan posisi serta peran BK dalam Kurikulum Merdeka. Diawal paparannya dijelaskan bahwa sebenarnya konsep merdeka belajar bukanlah hal baru, karena sebenarnya merdeka belajar merupakan konsep belajar yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Demikian juga, munculnya Kurikulum Merdeka sebenarnya sudah sangat lama berproses, yang oleh narasumber dijelaskan dalam kemasan ‘serpihan peristiwa’.

Serpihan peristiwa tersebut dimulai pada tahun 2002 dengan dikenalkannya filsafat Konstruktivisme dalam pendidikan yang mengedepankan kebebasan dan keberagaman, bukan keseragaman. Rangkaian peristiwa berikutnya adalah pada saat pelaksanaan Pendidikan & Latihan Profesi Guru (PLPG) dalam rangka sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2010. Dalam PLPG tersebut harus dikelola dengan model Taylor-Made dan harus bisa membangun High Order Thinking Skill (HOTs) guru. Akhirnya HOTs diterapkan bersama dengan implementasi Kurikulum 2013 yang menerapkan Scientific Approach dalam pembelajarannya. Dimulainya Era Revolusi Industri 4.0 yang disebut juga dengan era digital, menuntut adanya pengembangan keterampilan non-kognitif abad 21, minimal the Four Cs, yaitu: Collaboration, Communication, Critical Thinking, and Creativity. Peristiwa demi peristiwa tersebut sebenarnya merupakan upaya untuk memperbaiki learning-crisis yang terjadi pada bangsa Indonesia, yaitu lemahnya literasi membaca dan literasi numerasi, ditambah terjadinya pandemi covid-19 yang menyebabkan learning-loss. Hingga akhirnya lahir Kurikulum Merdeka.

Gambar 2. Penjelasan dari Narasumber Dr. Hj. Sri Panca Setyawati, M.Pd.

Bagi guru bidang studi (mata pelajaran), penerapan Kurikulum Merdeka perlu mendapatkan perhatian khusus, karena memunculkan beberapa perubahan, khususnya dalam proses pembelajaran. Sebagaimana kita ketahui, tujuan di terapkannya Kurikulum Merdeka adalah untuk mengatasi learning-crisis dalam hal literasi membaca dan literasi numerasi. Oleh karenanya, guru bidang studi harus mengedepankan proses untuk mencapai kedua literasi tersebut, bukan semata-mata penguasaan konten mata pelajaran. Guru bisang studi juga harus melakukan asesmen diagnostik kognitif untuk mengetahui kondisi awal siswa sebelum memulai pembelajaran, sehingga guru akan benar-benar melakukan pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa. Selain itu, guru mata pelajaran juga bertanggung jawab atas terbentuknya Profil Pelajar Pancasila sebagai upaya dan wujud Pendidikan karakter bangsa Indonesia.

Tidak demikian halnya dengan guru BK dalam memberikan layanan BK. Dalam sistem pendidikan di sekolah, secara konseptual maupun operasional, layanan BK mempunyai posisi sebagai penunjang. Layanan BK merupakan bagian integral (tidak terpisahkan) dari sistem pendidikan di sekolah dan dalam mencapai tujuan selalu berjajar iring dengan pencapaian tujuan pendidikan. Guru BK membantu siswa untuk mengembangkan karakter hingga mencapai kemandirian. Demikian juga dalam implementasi Kurikulum Merdeka, posisi BK sangat strategis. Peran BK sangat penting, yaitu membantu guru dengan melakukan asesmen non-kognitif dan membantu siswa dalam menemukan passion diri.

Asesmen non-kognitif merupakan pengumpulan data untuk mengetahui faktor kesejahteraan psikologis, sosial-emosional, aktivitas belajar di rumah, kondisi keluarga, latar belakang pergaulan, gaya belajar, karakter, minat, dsb. Faktor-faktor tersebut sangat penting diketahui khususnya oleh guru bidang studi karena faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh kuat terhadap aktivitas belajar siswa dan pada akhirnya juga akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, kerjasama antara guru BK dengan guru bidang studi sangat penting agar efektif dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Dalam kondisi demikian lah fungsi adaptif diimplementasikan. Kerjasama tersebut dapat diwujudkan dalam kegiatan memadukan hasil asesmen diagnostik kognitif yang dilakukan oleh guru bidang studi dengan hasil asesmen non-kognitif yang dilakukan oleh guru BK. Dengan demikian akan diperoleh profil siswa yang utuh sehingga akan mempermudah guru bidang studi dalam menentukan tindak pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.

Peran penting lainnya dari guru BK adalah membantu siswa menemukan passion. Siswa harus mampu menemukan passion-nya,  karena penting untuk penentuan pemilihan karir, khususnya pemilihan studi lanjut. Dalam kurikulum merdeka mungkin menjadi sesuatu yang sulit bagi siswa untuk menemukan passion mengingat tidak adanya penjurusan, siswa masih dalam masa perkembangan, dan berasal dari latar belakang yang berbeda, sehingga wawasan yang dimiliki siswa akan berbeda, bahkan mungkin siswa belum memiliki wawasan yang memadai untuk memilih karir, khususnya studi lanjut. Oleh karena itu, guru BK harus menyiapkan instrumen tes (jika tersedia) maupun instrumen non tes (bisa dikembangkan oleh guru BK). Selanjutnya melakukan analisis data dan menginterpretasikan hasil analisis data secara cermat dan akurat untuk memahami siswa. Hasil interpretasi tersebut harus diinformasikan kepada siswa dan orang tua, serta mendiskusikannya dalam rangka mengambil keputusan dalam studi, khususnya memilih mata pelajaran yang mendukung dan memperkuat pilihan siswa akan jurusan studi lanjut maupun pilihan karir. (Sri Panca Setyawati, Santy Andrianie, Laelatul Arofah, dan Rosalia Dewi Nawantara, Zein Kholishotul Maghfiroh)